Sabtu, 26 Februari 2022

Bahkan mulut ku pun tak sanggup bercerita

Hari ini....yaaa, hari ini cukup jadi penanda kalau aku tau setiap perjalanan rumah tangga yang kita impikan tak selalu sesuai dengan ingin kita. Sepercaya apapun kita ke orang yang kita cintai dan percaya. Lagi lagi aku dengar tentang betapa teganya seorang suami yang jelas jelas aku tau dia bagaimana orangnya dan berada dikeluarga seperti apa. Awalnya ku kira hanya aku si malang yang masuk ke keluarga itu. Tapi ternyata ada lagi perempuan bernasip sama bahkan lebih mengenaskan karna mental, fisik dan psikis nya hancur ketika ingin masuk ke keluarga ini. Entah seberat itu kah bagi perempuan baru untuk memulai bahagianya dengan laki laki yang dicintai di keluarga itu? Tapi jujur saja butuh waktu cukup lama buat ku menutup luka dan menutup nya kembali jika mereka menggores luka ditempat yang sama.

Kehamilan ke3 yang membuat ku merasa apakah aku sanggup bertahan dengan nya yang notabane nya laki laki itu dari keluarga itu. Keluarga yang ku kira entah dimana perasaannya pada sesama perempuan. Mereka yang hanya memikirkan kebaikan anggota keluarganya semata tanpa menanyakan apakah si perempuan yang baru masuk dikeluarga itu baik baik saja atau tidak. Ahhh.... sudahlah aku pun tak pernah berharap lebih pada mereka. Ketika semakin ku tau sifat dan watak mereka semakin aku bersandar pada Allah sang penetap takdir. Aku selalu berdoa semoga takdirku pun bahagia dengan orang yang aku cintai sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Seberliku apapun perjalanannya. Selama aku bisa berusaha dan dia memang pantas untuk aku pertahankan. Aku memilih untuk tetap berkhusnudzan pada kehendak Rabb ku. Dan ku jalani semuanya tak lain hanya karna Nya.

Sabtu, 19 Februari 2022

Ketika jalan itu tak lagi beriringan

Ternyata memang benar, waktu akan menjawab satu persatu kegundahan dalam hati. Bahkan nyawaku kini tak lagi berharap bisa bersandar pada sosok yang sama tapi tenang saja aku tetap bersandar pada sang pencipta.

Talk pillow kami kali ini benar benar menyadarkan ku tentang siapa aku dan seberapa peran ku menyertai dirinya 12 tahun kebelakang. Ternyata aku masih belum beranjak dari luka yang sama...luka yang dulu tergores sangat dalam. Bahkan sampai saat ini aku seringkali kecewa dengan diriku yang masih mudah jatuh dan terluka. Entahlah sesakit itu rasanya memang...

Bahkan air mata pun sudah bosan menjadi sinyal bahwa aku tak mampu...

Kini aku memilih membiarkan diri ku tetap memakai sepatu yang sama persis dengan yang aku pakai 12 tahun lalu, meskipun banyak lecet dibagian belakanh kaki dan jaru jemari. Aku hanya ingin fokus melangkah ke syurga dengan sepatu yang memang sudah Allah tetapakan untukku...

Karna aku semakin meyakini, apapun yang Allah tetapkan itu yang terbaik untukku. Bukan, bukan sekedar bahagia dari sudut pandangku saja. Ternyata bahagia itu terkadang kita harus dengan menangis. Dan lagi, aku ngga pernah tau apakah dia orang yang tepat atau bukan. Bahkan aku tak lagi bisa saling berpelukan sambil menangis setelah deep talk kami. Aku memilih memngeluarkan air mata ku sendiri dengan berharap kepada Allah saja. Ya hanya Allah...

Biarlah luka ku aku sendiri yang tanggung, tak perlu anak anak ku tahu tentang luka ini. Kelak mereka akan tahu dengan sendirinya dan akan memilih bersikap bijak dengan tetap menjadi baik pada siapapun...

Aku akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari versi ku sebelumnya. Aku tak akan berharap lebih lagi padanya... 
Aku sudah pasrah
Aku sudah ikhlas dengan takdirku

Terimakasih Allah...
Terimakasih atas pelajaran hidup yang sangat berharga ini. Izinkan aku agar mampu menjadi ibu yang shaliha untuk anak-anakku  izinkan aku untuk menjadi anak yang shaliha untuk kedua orang tua ku dengan berupaya sebisa mungkin menjadi istri yang shaliha untuk suamiku. Allah you are my reason...